Para pendidik di tingkat sekolah dasar selalu mengandalkan
hapalan dalam memahami matematika. Sebagai contoh kebanyakan para pendidik di
sekolah dasar ketika mau mengajarkan
perkalian dasar dalam matematika selalu menyuruh siswa untuk menghapal
perkalian 1 s/d 10 dan seterusnya tanpa memahamkan siswa mengenai arti dari
operasi perkalian itu sendiri. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa pada
masa siswa tingkat sekolah dasar dalam memahamkan matematika harus dengan
bentuk yang konkrit dalam arti bisa dipahami siswa di dunia sehari-hari tidak
langsung dalam bentuk abstrak.
Solusi
Seorang pendidik yang mengajar di
tingkat sekolah dasar dalam memahamkan matematika pada siswanya harus dalam
bentuk yang konkrit. Misalkan ketika mau mengajarkan tentang operasi perkalian
pada siswa, di dahului dengan penjumlahan berulang dengan menggunakan peraga,
kelereng, misalnya. Dengan mengelompokkan kelereng menjadi 4 kelompok yang
berisi 3 kelereng, guru menjelaskan 4 x 3 adalah 12. Dengan cara mengubah cara
pengelompokkan guru menunjukkan bahwa 3 x 4 juga 12. Hasilnya sama tetapi
beda makna perkaliannya. Selanjutnya setelah memahami makna perkalian dengan
baik barulah siswa diminta menghafalkan perkalian-perkalian dasar.