Masalah Pendidikan Matematika Di Indonesia

     Kebanyakan para siswa merasa cemas ketika belajar matematika. Seperti yang diungkapkan oleh Hudojo kecemasan tertinggi dialami siswa pada saat siswa belajar matematika dibandingkan dengan belajar lainnya. Fakta dilapangan sampai ada siswa ketika menghadapi soal matematika mereka seperti mandi keringat. Bahkan seperti yang kita ketahui kebanyakan para siswa mungkin termasuk juga mahasiswa ketika sedang dilaksanakan proses pembelajaran matematika sangat sulit untuk maju ke depan ketika ada tugas soal yang harus dikerjakan oleh siswa di papan tulis. Beberapa penyebab utama yang sering muncul dalam kecemasan matematika, antara lain  adanya dogma negatif terhadap matematika. Hingga saat ini, dogma negatif terhadap matematika masih terdapat pada benak sebagian besar siswa, yang bersifat turun temurun mulai dari siswa sekolah dasar hingga maha-siswa di perguruan tinggi, dan biasanya dogma ini diturunkan oleh orang tua sendiri. Berikut ini contoh ungkapan orang tua, “Nak, awas ya…, kalau tidak belajar matematika!”; sikap negatif terhadap matematika, biasanya sikap negatif ini muncul pada saat siswa mengalami kesulitan menyelesaikan soal atau saat ujian. Apabila kejadian ini berulang-ulang maka sikap negatif siswa akan berubah menjadi kecemasan belajar matematika, pengalaman yang kurang menyenangkan masa lalu saat  belajar matematika.   Nothing menyatakan bahwa suatu pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan akan memiliki pandangan negatif untuk belajar matematika saat ini dan masa mendatang. Yusof dan Tall  menyebutkan bahwa bila pada sekolah dasar siswa merasa tidak menyenangkan belajar matematika maka siswa akan cemas belajar matematika di jenjang berikutnya (SMP), demikian pula seterusnya untuk jenjang yang lebih tinggi lagi. Pendekatan pengajaran guru yang kurang menarik. Newstead menyatakan bahwa pendekatan pengajaran guru sangat menentukan keberhasilan pengajaran matematika di kelas. Bila guru yang tidak mampu menampilkan pengajaran matematika dengan menarik akan membosankan siswa, pada akhirnya akan menimbulkan kecemasan belajar matematika.
Solusi
Berbicara masalah kecemasan tidaklah terlepas dari bagaimana kiat atau cara efektif untuk menguranginya. Pada kiat itu, kita hanya dapat melakukan kegiatan  “mengurangi kecemasan” dan tidak dapat melakukan “menghilangkan kecemasan” pada diri siswa. Karena pada dasarnya kecemasan  merupakan gejala jiwa yang pasti ada pada diri siswa, hanya saja yang berbeda adalah tingkat kecemasanya dan saat kapan kecemasan itu muncul. Beberapa kiat dalam mengurangi kecemasan terhadap matematika yaitu: 1)  mengatasi kesan diri negatif terhadap matematika; 2) mengajukan pertanyaan, artinya seorang siswa harus membiasakan diri untuk mengajukan pertanyaan bila mengalami kesulitan; 3) ingatlah, bahwa matematika adalah pengetahuan yang asing (baru); oleh karena itu siswa harus berani mencobanya memahami matematika; 4) jangan semata-mata mengandalkan memori sendiri dalam belajar; 5) bacalah buku teks matematika dengan baik, artinya bila seseorang siswa menemui masalah dalam belajar matematika maka disarankan siswa untuk membaca ulang lagi buku teks matematika dan tidak terbatas pada satu buku teks saja; 6) belajar matematika menurut cara belajar sendiri; 7) cari bantuan bila kamu tidak memahaminya; Tumbuhkan keadaan rileks dan rasa senang ketika belajar matematika; 9) Katakan “saya cinta matematika”; 10) Kembangkan rasa tanggung jawab bila mendapat kesuksesan dan kegagalan.

Template by : kendhin x-template.blogspot.com