Kebanyakan para siswa merasa cemas ketika belajar
matematika. Seperti yang diungkapkan oleh Hudojo kecemasan tertinggi dialami
siswa pada saat siswa belajar matematika dibandingkan dengan belajar lainnya.
Fakta dilapangan sampai ada siswa ketika menghadapi soal matematika mereka
seperti mandi keringat. Bahkan seperti yang kita ketahui kebanyakan para siswa
mungkin termasuk juga mahasiswa ketika sedang dilaksanakan proses pembelajaran
matematika sangat sulit untuk maju ke depan ketika ada tugas soal yang harus
dikerjakan oleh siswa di papan tulis. Beberapa penyebab utama yang sering
muncul dalam kecemasan matematika, antara lain adanya dogma negatif
terhadap matematika. Hingga saat ini, dogma negatif terhadap matematika masih
terdapat pada benak sebagian besar siswa, yang bersifat turun temurun mulai
dari siswa sekolah dasar hingga maha-siswa di perguruan tinggi, dan biasanya
dogma ini diturunkan oleh orang tua sendiri. Berikut ini contoh ungkapan orang
tua, “Nak, awas ya…, kalau tidak belajar matematika!”; sikap negatif
terhadap matematika, biasanya sikap negatif ini muncul pada saat siswa
mengalami kesulitan menyelesaikan soal atau saat ujian. Apabila kejadian ini
berulang-ulang maka sikap negatif siswa akan berubah menjadi kecemasan belajar
matematika, pengalaman yang kurang menyenangkan masa lalu saat belajar
matematika. Nothing menyatakan bahwa suatu pengalaman masa lalu
yang kurang menyenangkan akan memiliki pandangan negatif untuk belajar
matematika saat ini dan masa mendatang. Yusof dan Tall menyebutkan bahwa bila pada sekolah dasar
siswa merasa tidak menyenangkan belajar matematika maka siswa akan cemas
belajar matematika di jenjang berikutnya (SMP), demikian pula seterusnya untuk
jenjang yang lebih tinggi lagi. Pendekatan pengajaran guru yang kurang menarik.
Newstead menyatakan bahwa pendekatan pengajaran guru sangat menentukan
keberhasilan pengajaran matematika di kelas. Bila guru yang tidak mampu
menampilkan pengajaran matematika dengan menarik akan membosankan siswa, pada
akhirnya akan menimbulkan kecemasan belajar matematika.
Solusi
Berbicara masalah kecemasan tidaklah
terlepas dari bagaimana kiat atau cara efektif untuk menguranginya. Pada kiat
itu, kita hanya dapat melakukan kegiatan “mengurangi kecemasan” dan tidak
dapat melakukan “menghilangkan kecemasan” pada diri siswa. Karena pada dasarnya
kecemasan merupakan gejala jiwa yang
pasti ada pada diri siswa, hanya saja yang berbeda adalah tingkat kecemasanya
dan saat kapan kecemasan itu muncul. Beberapa kiat dalam mengurangi kecemasan
terhadap matematika yaitu: 1) mengatasi kesan diri negatif terhadap
matematika; 2) mengajukan pertanyaan, artinya seorang siswa harus membiasakan
diri untuk mengajukan pertanyaan bila mengalami kesulitan; 3) ingatlah, bahwa
matematika adalah pengetahuan yang asing (baru); oleh karena itu siswa harus berani
mencobanya memahami matematika; 4) jangan semata-mata mengandalkan memori
sendiri dalam belajar; 5) bacalah buku teks matematika dengan baik, artinya
bila seseorang siswa menemui masalah dalam belajar matematika maka disarankan
siswa untuk membaca ulang lagi buku teks matematika dan tidak terbatas pada
satu buku teks saja; 6) belajar matematika menurut cara belajar sendiri; 7)
cari bantuan bila kamu tidak memahaminya; Tumbuhkan keadaan rileks dan rasa
senang ketika belajar matematika; 9) Katakan “saya cinta matematika”; 10)
Kembangkan rasa tanggung jawab bila mendapat kesuksesan dan kegagalan.